Artikel Ilmiah

 

 

 

 

 

HOME

 

FILSAFAT PENDIDIKAN : Pengetahuan & Nilai

M. Sutarno, S.Si, M.Pd

 

Pada bab sebelumnya telah dibahas bahwa teori dan paraktek pendidikan mengisyaratkan ide tentang sifat dasar manusia dan hakikat dari kenyataan yang pada akhirnya merupakan ciri khas dari filsafat. Pendidikan tidak hanya mengisyaratkan metafisis tetapi juga mengisyaratkan ide atau pemikiran tentang hakikat dari pengetahuan dan hakikat nilai. Pengetahuan merupakan kumpulan prinsip-prinsip yang sangat penting bagi pendidik. Pendidik terutama diasyikan dengan perkembangan intelektual dari siswanya. Ketika dikaitkan dengan kesehatan fisik siswa dan kestabilan emosinya, guru harus mendasarkan setiap keputusannya pada pengetahuan yang dapat dipercaya. Oleh karena itu sangatlah penting bagi guru untuk memikirkan bahwa pada akhirnya secara filosopi, pengetahuan merupakan sesuatu yang sangat penting. Cabang filsafat yang menguraikan tentang pengetahuan disebut dengan epistemologi. Ahli filsafat sebagai epistimologis memberikan gambaran tentang hakekat pengetahuan. Apa itu pengetahuan? aktivitas apa saja yang biasanya dilibatkan dalam pengetahuan? apa perbedaan antara pengetahuan, perkataan dan keyakinan?  dapatkan kita memperoleh informasi  diluar  informasi yang dapat disajikan oleh pikiran sehat atau indera kita? apa hubungan antara aktivitas pengetahuan dengan sesuatu yang telah diketahui sebelumnya ? bagaimana kita dapat menunjukkan bahwa pengetahuan  itu adalah benar? Tidak seperti scientis, epistimologi lebih diperhatikan pada konsep daripada kenyataan. Tugas dari ahli psikologi sebagai contoh untuk menemukan bagaimana seseorang itu dapat berpikir dan merasakan secara kejiwaannya. Sedangkan Tugas dari ahli epistimologi adalah untuk memikirkan apakah arti dari konsep-konsep psikologi seperti merasakan, persepsi, pembelajaran, penguatan dan juga memutuskan apakah ahli psikologi menerapkan semua itu dengan baik. Jika ahli psikologi tidak menerapkan semua itu, maka mereka akan kehilangan gambaran dari kenyataan. Dari point yang telah digambarkan dari seorang pendidik, satu hal yang paling penting adalah dalam epistemologi adalah adanya perbedaan tipe dari pengetahuan. Berikut ini akan dijelaskan tentang jenis-jenis pengetahuan yang meliputi ; pengetahuan wahyu, pengetahuan intuisi, pengetahuan rasional, pengetahuan empiris, pengetahuan otoritas.

JENIS-JENIS PENGETAHUAN

Pengetahuan Wahyu (Reveaload Knowledge)
Secara sederhana, pengetahuan wahyu dapat digambarkan sebagai pengetahuan yang tuhan telah berikan kepada manusia. Dengan kekuasaan-Nya, tuhan telah mengilhami secara pasti kebenaran kepada manusia pilihannya, sehingga kebenaran tersebut dapat diketahui oleh seluruh umat manusia dan dapat dijadikan petunjuk dalam menjalani kehidupannya. Untuk umat nasrani dan yahudi di dunia, kebenaran dari tuhan telah dituangkan dalam kitab Bibel, untuk muslim dalam al-Qur’an, untuk hindu dalam bhagavad-gita. Untuk penganut kepercayaan keagaamaan, kebenaran yang paling penting adalah argumen/anjuran yang dikemukana oleh ahli agama. pada pokoknya, penafsiran dari kitab akan membawa mereka penerangan pada kebenaran yang abadi dan firman-firman tersebut akan menjadi kunci bagi kehidupannya. Wahyu merupkan firman tuhan, sehingga kebenarannya bersifat mutlak dan abadi. Pengetahuan wahyu ini bersifat eksternal artinya pengetahuan tersebut berasal dari luar manusia.

Pengetahuan Intuitif (Intuitive Knowledg)
Pengetahuan wahyu merupakan pemberian Tuhan dan merupakan bagian dari luar manusia. Pengetahuan intuitif merupakan pengetahuan yang diperoleh manusia dalam dirinya sendiri pada saat menghayati sesuatu. Pengetahuan intuitif muncul secara tiba-tiba dalam kesadaran manusia. Melalui proses kerjanya manusia sendiri itu tidak menyadarinya. Pengetahuan ini sebagai hasil penghayatan pribadi, sebagai hasil ekspresi dan individualitas seseorang, sehingga validitas pengetahuan ini sangat bersifat pribadi. Pengetahuan intuisi berbeda dengan teori ilmiah. Teori ilmiah yang komplit bukanlah dibentuk dari pengetahuan intuisi. Teori ilmiah itu harus logis dan dapat diuji dengan observasi atau eksperimen ataupun melalui keduanya. Ketika suatu teori ilmiah diklaim untuk menjadi suatu pengetahuan bukanlah disampaikan sebagai wawasan personal melainkan sebagai suatu hipotesis yang dapat diuji secara umum. Pengetahuan intuitif disusun dan diterima dengan kekuatan visi imaginatif dalam pengalaman pribadi seseorang. Kebenaran yang timbul dalam karya seni merupakan bentuk pengetahuan intuitif seperti karya penulis besar Homer, Shakespeare, Proust, yang berbicara kepada kita tentang kebenaran hati nurani manusia. Itu semua merupakan hasil kerja intuisi. Kebenaran tersebut tidak akan dapat diuji dengan observasi, perhitungan atau eksperimen karena kebenaran intuitif tidak berhipotesis. Tulisan-tulisan mistik, autobiografi dan karya essay merupakan refleksi dari pengetahuan intuitif. Selain itu, kebenaran intuitif sulit dikembangkan karena validitasnya yang sangat pribadi, memiliki watak yang tidak komunikatif. Khusus untuk diri sendiri, subjektif, tidak terlukiskan, sehingga sulit untuk mengetahui apakah seseorang memilikinya atau tidak.

Pengetahuan Rasional (Rational Knowledge)
Pengetahuan rasioanal merupakan pengetahuan yang diperoleh dengan latihan rasio/akal semata, tidak disertai dengan observasi terhadap peristiwa-peristiwa faktual. Prinsip logika formal dan matematika murni merupakan paradigma pengetahuan rasioanal, dimana kebenarannya dapat ditunjukkan dengan pemikiran abstrak. Prinsip pengetahuan rasional dapat diterapkan pada pengalaman indera, tetapi tidak disimpulkan dari pengalaman indera. Ambil prinsip logika bahwa dua kalimat yang kontradiksi tidaklah dapat benar pada objek dan waktu yang sama. Contohnya “Fido adalah anjing” dan “Fido bukanlah anjing”. Atau ambil prinsip jika A lebih besar dari B, B lebih besar dari C, maka A lebih besar dari C. Contoh yang lain, jika Boeing 747 lebih besar dari pada Flying Fortress, Flying Fortress lebih besar daripada Piper Cub, maka Boeing 747 lebih besar dari Piper Cub. Prinsip pengetahuan rasional dapat dipergunakan pada pengalaman indera, tetapi tidak dapat menarik kesimpulan dari hal tersebut. Tidak seperti kebenaran intuisi, pengetahuan rasioanal adalah valid ketika tidak mempedulikan perasaan kita dan kebenaran tersebut valid secara universal.

Pengetahuan Empiris (Empirical Knowledge)
Pengetahuan empiris merupakan pengetahuan yang diperoleh atas dasar bukti penginderaan, misalnya dengan penglihatan, pendengaran, penciuman, merasakan dan sentuhan indera-indera lainnya sehingga kita memiliki konsep dunia di sekitar kita. Paradigma dari pengetahuan empiris adalah ilmu pengetahuan modern dimana hipotesis ilmiah diuji oleh pengamatan atau oleh eksperimen untuk menemukan hipotesis mana yang paling memuaskan untuk fenomena tertentu. Meskipun demikian, suatu hipotesis tidak pernah dibuktikan secara mutlak. Hal ini hanya untuk menunjukkan kemungkinan yang ada. Paradigma empiris juga perlu menunjukkan bahwa pikiran sehat kita kadang-kadang dapat menipu kita, seperti ketika suatu tongkat yang sebenarnya lurus ketika didalam air terlihat dibelokkan. Ketika Socrates bertanya sebelum ia minum racun. "Benarkah pikiran sehat kita sehat? Apakah mereka akurat?" lebih dari itu, pikiran sehat kita dikondisikan oleh prasangka. Kita cenderung merasa apakah hal berada dalam kemampuan kita. Dengan demikian kita merasa berada dalam sebuah ruangan dengan latar belakang permanent yang mana kejadian yang unik terjadi pada saat berurutan. Pengertian ruang dan waktu adalah hampir bisa dipastikan suatu peristiwa dari kultur kita pada suatu langkah tertentu dalam pengembangannya.

Pengetahuan Otoritas (Authoritative Knowledge)
Kita menerima sangat banyak pengetahuan sebagai kebenaran bukan karena kita sudah mengeceknya tetapi karena itu dijamin oleh pihak yang berwenang. Saya menerima tanpa bertanya bahwa Canberra adalah ibukota dari Australia, kecepatan cahaya adalah 186,281 mil per detik, dan perang di Waterloo terjadi pada tahun 1815. Saya merasa tidak perlu untuk memverifikasi fakta-fakta ini, saya merasa lebih baik berlatih untuk mempelajari tabel logaritma. Saya melakukannya karena saya menemukannya dalam ensiklopedia dan pekerjaan lain yang ditulis oleh para ahli. Jika saya ingin mengetahuinya, sebagai informasi, apa itu Cubism atau apa itu hukum gerak Newton, saya mencari Cubism dan Newton dalam ensiklopedia. Jika aku ingin mengerti Cubism atau Mekanika Newton, saya harus berlatih prinsip-prinsip keduanya. Ketika saya tidak menemukan kembali Cubism atau mekanika, tetapi saya berpikir melalui prinsip-prinsip dasar Cubism atau mekanika sampai saya mengerti prinsip-prinsip tersebut. Saya memahami Cubism ketika saya melihat sasaran hasil yang artistik yang Cubists. Saya memahami hukum gerak Newton ketika saya melihat penalarannya dan kesimpulan yang menjadi tujuan serta bukti-bukti. Apa yang saya benarkan, bagaimanapun, adalah pengetahuan hukum gerak Newton yang telah ditetapkan secara ilmiah bersifat pengetahuan empiris. Jadi, Dengan demikian istilah "pengetahuan autoritatif" lebih psikologis dibanding epistemologis. Itu menandakan bukan sifat alami mereka yang saya ketahui tetapi cara mereka memberi tahu kepada saya. Pengetahuan autoritatif menunjuk bukan kepada produk-produk budaya, tetapi kita sebut pengetahuan seperti yang ditempuh oleh produk-produk yang sesuai. "Pengetahuan autoritatif" dibentuk oleh pengetahuan bahwa saya menerima dari otoritas seseorang. Sejauh ini kita sudah mempertimbangkan beberapa kategori-kategori yang berbeda dari  pengetahuan yang telah lalu. Marilah kita sekarang mengambil suatu pandangan yang lebih luas dan menanyakan apa yang memimpin filsafat pendidikan yang mengatakan pengetahuan dalam hubungannya kepada pendidikan.

Idealis Epistemologi dan Pendidikan
Plato, setuju dengan Socrates, yang menjelaskan bahwa pengetahuan diperoleh melalui pikiran sehat harus selalu tetap tidak sempurna dan tidak pasti, karena dunia material hanyalah suatu salinan dari lapisan yang lebih sempurna. Pengetahuan yang benar adalah hasil dari proses akal seseorang, karena akal mampu menggambarkan bentuk asli secara spiritual sebagai perwujudan materi di alam baka. Hegel menekuni konsep dari plato bahwa pengetahuan adalah valid hanya sepanjang itu membentuk suatu sistem. Karena kenyataan yang terakhir adalah masuk akal dan sistematis, pengetahuan realitas kita adalah benar bahwa itu terlalu sistematis. Semakin menyeluruh sistem dari pengetahuan kita dan semakin konsisten gagasan-gagasan yang memeluk, semakin banyak kebenaran yang mungkin dapat dimiliki. Prinsip ini biasanya dikenal sebagai "teori koherensi (melekat)" dari kebenaran. Itu didasarkan pada pandangan bahwa item tertentu dari pengetahuan menjadi penting jika dilihat pada tingkat konteks yang menyeluruh. Karenanya semua gagasan dan teori-teori yang harus disahihkan menurut  mereka "melekat" di dalam suatu sistem pengetahuan yang berkembang secara terus-menerus. Menurut Kant, idealis  modern berpendapat bahwa hakekat pengetahuan adalah maksud/arti dan pesan informasi yang diperoleh oleh pikiran sehat. Tujuan pengajaran yang seharusnya tidak hanya memberikan siswa sejumlah informasi, akan tetapi membantu siswa memahami maksud dan pesan dari informasi yang diberikan. Beberapa idealis, yang dikenal sebagai "personalists", juga bermaksud bahwa siswa perlu menghubungkan informasi ini kepada pengalaman-pengalamannya sendiri yang sebelumnya sehingga apa yang ia pelajari sesuai dengan dirinya pribadi.

Realis Epistemologi dan Pendidikan
Realis menolak pandangan Kant berpendapat bahwa pikiran menentukan kategori-kategori sendiri,  seperti "hakikat"  dan "hubungan sebab akibat", didasarkan pada data pikiran sehat. Sebaliknya, realis berkata, dunia yang kita rasa bukan suatu dunia yang kita bayangkan tetapi dunia sebagaimana adanya. Pada hakikatnya, hubungan sebab akibat, dan pesan bukan suatu proyeksi pikiran tetapi bagian dirinya sendiri. Terus terang, ilmu pengetahuan alami menghasilkan suatu gambaran yang berbeda dari dunia dibanding pengalaman sehari-hari yang dirasakan. Meja yang kokoh yang di atasnya aku menulis kata-kata ini adalah, untuk ahli ilmu fisika, suatu koleksi partikel-partikel yang tidak dapat dilihat. Tetapi hanya mengikuti instrumen-instrumen ini yang berbeda dengan pengamatan dunia, bukan aspek yang ditampilkan oleh peninjau sendiri. Kemudian untuk realis, sebuah ide atau dalil adalah benar ketika bersesuaian dengan berbagai hal yang isinya tergambarkan di dunia. Suatu hipotesis tentang dunia adalah tidak benar simpel  karena berhubungan “koheren” dengan pengetahuan. Jika pengetahuan yang baru melekat satu sama lain dengan yang lama, hal ini menyebabkan yang lama adalah benar, karena pengetahuan yang lama berpasangan dengan kasus tersebut. Koheren tidak menciptakan kebenaran. Hal ini terjadi dua atau lebih teori tentang dunia berkaitan dengan bagian yang mereka gambarkan, mereka akan saling mendukung satu sama lain. Pengetahuan yang benar, adalah pengetahuan yang berhubungan dengan dunia sebagaimana adanya. Lambat laun umat manusia telah meletakkan bersama-sama sebuah pengetahuan yang benar yang mereka tetapkan berulang-ulang. Untuk menggambarkan suatu seleksi dari  pengetahuan ini kepada orang yang berkembang adalah tugas milik sekolah yang paling penting. Oleh karena itu inisiatif dalam pendidikan menjadikan guru sebagai sumber dari warisan kebudayaan. Ia adalah guru, bukan siswa, yang harus menentukan materi-materi apa yang harus dipelajari di kelas. Jika materi ini dapat membuat siswa menikmati untuk mencukupi kebutuhan dan kepentingan siswa maka hal itu sangat baik. Tetapi memuaskan siswa secara pribadi sedikit kurang penting dibanding memberikan materi yang benar. Untuk mengajari siswa dalam memahami pengetahuan lebih banyak menjadi tujuan akhir dari pendidikan, padahal memuaskan siswa hanyalah suatu alat, yang menjadi suatu strategi pengajaran yang bermanfaat.

Pragmatis Epistemologi dan Pendidikan
Seorang yang pragmatis percaya bahwa menjadi aktif dan berusaha lebih baik dari pada pasif dan hanya menerima. Pemikiran itu tidak terlepas dan terpisah dalam menghadapi suatu dunia. Lebih baik mengenal dunia yang dibentuk oleh sebagian pikiran. Kebenaran tidak semata-mata sebuah kebohongan ide manusia dalam hubungan untuk sebuah realitas eksternal, karena realitas seseorang tergantung pada sebagian ide yang ia jelaskan. Pengetahuan dihasilkan oleh  interaksi antara manusia dan lingkungannya, dan kebenaran adalah suatu harta dari pengetahuan. Kemudian untuk apa kebenaran itu? Seorang yang pragmatis telah menetapkan bahwa sebuah  ide itu benar jika ide itu "bekerja". Menurut William James berpendapat bahwa satu ide adalah benar jika ide itu mempunyai akibat yang baik untuk orang yang menggunakannya. Orang pragmatis yang lain, seperti Peirce dan Dewey, tetap menekankan bahwa satu ide adalah benar jika hanya mempunyai akibat memuaskan ketika diuji secara obyektif dan ilmiah. Untuk orang yang menganut paham pragmatis secara umum, kebenaran dari suatu ide bergantung pada akibat-akibat yang diamati secara obyektif ketika ide itu mulai bekerja. Seorang yang pragmatis juga memelihara bahwa "metode dari kecerdasan" adalah cara yang ideal untuk memperoleh pengetahuan. Mereka berkata kita menyerap berbagai hal terbaik, dengan penempatan dan memecahkan masalah. Berhadapan dengan suatu masalah, kecerdasan mengusulkan hipotesis untuk memecahkannya. Hipotesis pemecahan masalah yang paling sukses adalah hipotesis yang menjelaskan tentang fakta dari masalah. Ini seperti apa yang disebut Dewey "pernyataan yang tegas", suatu klaim pengetahuan dapat ditetapkan secara obyektif dan secara operasional dan boleh bertindak sebagai suatu dasar untuk membangitkan hipotesis selanjutnya untuk masalah selanjutnya. Menurut seorang yang pragmatis, guru harus membangun situasi belajar di sekitar permasalahan yang akan memberikan solusi terbaik untuk siswa yang dibimbinganya pada suatu pemahaman yang lebih baik secara sosial dan lingkungan secara fisik. Sebagai ganti dari struktur materi yang tradisional, guru dan kelas harus menggunakan berbagai sumber pengetahuan apapun untuk membuktikan mana yang bermanfaat dalam memecahkan masalah.

NILAI DAN PENDIDIKAN
Nilai selalu ada di dalam pendidikan, terlibat disetiap aspek dari praktek sekolah, dasar bagi semua pengambilan pilihan dan dalam mengambil keputusan. Menggunakan nilai, guru mengevaluasi murid dan murid mengevalusi guru, masyarakat mengevaluasi kursus-kursus pendidikan, progam-progam sekolah dan kemampuan mengajar dan masyarakat itu sendiri dievaluasi oleh pendidik. Studi umum tentang nilai dikenal dengan istilah “axiology” yang konsen dalam tiga pertanyaan utama, 1). Apakah nilai itu subjektif atau objektif, personal atau impersonal. 2). Apakah nilai itu berubah atau tetap. 3). Apakah ada hirarki dalam nilai. Mari kita uji isu ini secara ringkas:

  1. Nilai objektif adalah nilai-nilai yang berada dalam kebenaran yang sebenarnya tanpa memperhatikan unsur-unsur kemanusiaan. Seperti nilai kebaikan, kebenaran dan keindahan yang merupakan kenyataan yang alami (cosmic). Sedangkan nilai subjektif adalah nilai-nilai yang didasarkan pada pilihan-pilihan personal. Suatu nilai menjadi berharga jika dinilai oleh seseorang. Pendidikan dapat memiliki nilai objektif, karena tanpa dinilai oleh manusia pun, pendidikan secara inheren adalah baik, siapa pun akan mengakui bahwa pendidikan adalah berharga. Akan tetapi pendidikan menjadi bernilai subjektif, jika baru berharga sebagai hasil penilaian manusia, atau karena manusia menilainya berharga.
  2. Beberapa orang menganggap bahwa niali bersifat absolute dan abadi jika nilai yang berlaku pada saat ini sudah valid sebagaimana pada masa lalu dan berlaku untuk setiap orang. Orang lain juga menyatakan bahwa nilai itu relatif sesuai dengan harapan dan keinginan-keinginan manusia. Keinginan-keinginan dan nilai-nilai berubah dalam merespon kondisi-kondisi sejarah baru, agama-agama baru, penemuan-penemuan baru dalam ilmu pengetahuan, perkembangan baru dalam teknologi dan lain sebagainya. Oleh karena itu, nilai dapat berasal dari pengalaman dan diuji oleh pengalaman dalam kehidupan masyarakat.
  3. Para idealis filosofi memahami bahwa ada hirarki yang baku pada nilai dalam hal ini nilai-nilai spiritual lebih tinggi dari nilai-nilai material. Sebab nilai spiritual menyadarkan kita pada tujuan utama hidup kita. Tetapi para pragmatis menolak adanya hirarki yang baku dalam nilai, bagi mereka satu aktivitas akan sama baiknya dengan aktivitas lain jika aktivitas tersebutmemuaskan kebutuhan penting dan memiliki nilai instrumental, tetapi mereka percaya yang lebih penting adalah menguji nilai-nilai secara empirik dari pada merenungkannya secara rasional. Dia percaya sebab ia berfikir bahwa semua nilai tertentu hanyalah alat untuk mendapatkan nilai yang lebih baik.

ETIKA DAN PENDIDIKAN
Pendidikan dihargai sebagai bengkel moral para pendidik. Para pendidik selalu digambarkan pada apa yang seharusnya dikatakan dan lakukan dan bagaimana seharusnya siswa bertindak/ berprilaku. Mereka (para pendidik) konsen pada penanaman nilai-nilai moral dan perbaikan individu serta perilaku sosial. Istilah etika berasal dari bahasa yunani yaitu “ethos” yang berarti adat kebiasaan. Etika adalah studi tentang nilai-nilai dalam bidang perilaku manusia yang berkaitan dengan pertanyaan seperti : apakah kehidupan yang baik untuk semua laki-laki? Bagaimana  kita harus bertindak?, berkaitan juga dengan “kebenaran“, nilai sebagai dasar untuk melakukan “kebaikan“. Terkadang sistem etika juga dihubungkan dengan keagamaan. Namun, dewasa ini sistem etika dunia barat, meskipun berasal dari pengajaran-pengajaran yang berbasis keagamaan biasanya malah dikesampingkan. USA telah memisahkan antara gereja dan negara dan sebagai hasil dari pengajaran yang berdasarkan agama telah dilarang di sekolah publik Amerika.tetapi kemudian pelarangan telah mendorong adanya tempat training moral. Dua macam teori etika yang penting di sini adalah „intuisisme“ dan „naturalisme“. Intuisianis menyatakan nilai-nilai moral yang dipahami oleh individu secara langsung, nilai moral disini benar menurut mereka sendiri, kebenarannya tidak bisa dibuktikan secara logika atau diuji coba secara empirik, hanya bisa dengan intuisi. Sementara para naturalis menyatakan nilai-nilai moral yang harus ditentukan melalui studi yang cermat dari akibat-akibat yang dapat diketahui, sebagai contoh jika seseorang percaya bahwa hubungan seksual sebelum menikah adalah salah secara moral, seseorang tidak melakukan karena etika saja tapi karena akibat dari hubungan tersebut. Ringkasnya para naturalis beranggapan bahwa nilai moral harus ditemukan pada ujian objek dari akibat praktis terhadap perilaku manusia. Bisakah nilai-nilai moral diajarkan dalam pengertian  yang sama sebagaimana pengetahuan yang sesungguhnya diajarkan? Sokrates menjawab pertanyaan ini dengan menganggap bahwa kebaikan moral terpendam di setiap individu, ia menegaskan bahwa guru harus membawa kebaikan-kebaikan ini ke dalam kesadaran siswa. Kebaikan bisa diajarkan, dengan mengajarkan kebaikan berarti menolong siswa menyadarinya. Seorang guru berharap bahwa siswanya  a). Mengetahui apa yang benar dan apa yang salah, b), mengetahui mengapa begitu, c). Mempunyai inisiatif apa yang harus dilakukan tentang apa yang ia ketahui, Jika pada akhirnya siswa bisa melakukan sesuatu dalam susunan aturan yang benar, guru harus lebih dengan lapang dada menerima usaha siswa tersebut.

 

ESTETIKA DAN PENDIDIKAN
Estetika adalah ilmu yang mempelajari tentang nilai-nilai keindahan. Nilai-nilai estetika biasanya sulit untuk diperkirakan karena orang-orang mungkin menilai dengan cara yang personal dan subjektif. Suatu aktifitas seni dapat membangkitkan perbedaan respon dari orang-orang yang berbeda. De Gustibus non dispuntandum est. Siapa yang bisa mengatakan respon yang manakah yang lebih layak atau lebih baik?
Buku teks dalam karya sastra, seni, dan musik yang mengacu pada standar-standar ini berguna untuk menginformasikan siswa dalam hal-hal yang melibatkan penilaian dan penghargaan. Faktanya, walaupun kritik tentang kekuasaan dapat dibedakan secara luas ketika menilai suatu hasil karya seni, hal ini membawa kita kembali pada pertanyaan sebelumnya. Siapa yang mengatakan respon apa yang benar-benar cocok? Sayangnya kita tidak bisa mengacu pada ilmu pengetahuan alam sebagai sumber untuk menjawab pertanyaan ini. Ilmu pengetahuan alam secara garis besar tidak relevan dengan penilaian hasil karya seni. Selama berabad-abad sebuah pertanyaan penting selalu diperbincangkan dalam segi estetika yaitu: Haruskah seni bersifat representatif atau haruskah seni menjadi produk dari hasil imajinasi penciptanya?


Menurut pandangan pertama, seni harus merefleksikan kehidupan dan pengalaman manusia secara jujur. Secara jelas kita harus menyadari pemandangan saat musim gugur atau pemandangan saat matahari tenggelam yang digambarkan oleh lukisan pemandangan alam. Kita harus dipuaskan oleh lukisan kehidupan suatu rangkaian bunga, tiap-tiap tangakai bunga itu dilukis dengan baik, kelopaknya benar-benar terlihat nyata, sehingga kita merasa ingin menariknya agar bisa kita raih dan bisa menyentuh bunga-bunga itu. Berdasarkan pandangan kedua si seniman mengekspresikan dirinya secara spontan tentang hadirnya aspek “kehidupan” yang menarik hatinya. Suatu gambar dikatakan oleh Degas “haruslah bukan hasil jiplakan…….Udara yang kita lihat pada lukisan para legenda dunia lukis bukanlah udara yang biasa kita hirup. Seniman mengacu pada pemikirannya sendiri. Dia menciptakan arah dan pengalamannya sendiri. Dia mengekspresikan perasaannya tentang keindahan dan kejelekan dunia, bahkan mungkin menunjukkan bagaimana dunia seharusnya menurut pemikiran dia sendiri. Dalam pandangan yang kedua ini si pencipta menikmati kebebasan tak terbatas untuk menggunakan medianya sesuai dengan ide kreatif yang ia miliki.   Menurut kedua pandangan ini, pertanyaan timbul sebagai suatu subjek yang layak dan masih berada dalam cakupan seni. Beberapa orang mempertahankan pendapatnya bahwa seni adalah sebuah ekspresi kehidupan, dan ia harus berurusan dengan semua aspek kehidupan yaitu: keburukan, keanehan, dan keunikan. Sementara beberapa yang lain percaya bahwa seni harus menampilkan suatu fungsi sosial. Sang seniman harus berbicara kepada seluruh manusia  sepanjang waktunya, bukan hanya kepada sekelompok orang yang sama, saat ini atau setelahnya. Sementara kelompok lain skeptis pada sesuatu disebut pertanggungjawaban sosial si seniman. Lingkungan masyarakat berubah. Seorang seniman lahir dalam satu generasi yang mungkin diciptakan untuk generasi berikutnya. Akankah dia disalahkan karena gagal menyajikan seni yang sesuai dengan zaman sekarang? Seorang seniman yang telah menyajikan kritiknya dengan baik mungkin berada pada akhir kekuatannya untuk dapat menciptakan sesuatu karena kritik lebih cenderung kepada standar penerimaan yang sudah disetujui. Memang, si seniman yang menolak kritik mungkin malah bisa menjadi innovator sejati.

Nilai Idealis dan Pendidikan
Untuk para idealis, nilai dan etika adalah hal yang absolute. Kebaikan, kebenaran, dan keindahan tidak berubah secara fundamental dari satu generasi ke generasi atau dari satu lingkungan ke lingkungan lain. Dalam esensinya, mereka tetap tidak berubah. Mereka tidak dibentuk oleh manusia tetapi merupakan bagian alami dalam alam semesta. Siswa, dikatakan oleh kaum idealis, harus tangguh dalam menjalankan nilai dan menjalankan bagaimana tata cara hidup, hal ini dikarenakan para kaum idealios meletakkan siswa dalam keragaman jiwa yang lebih luas jika dibandingkan yang seharusnya. Siswa harus menyadari bahwa dorongan-dorongan untuk berbuat jahat tidak hanya ada pada dirinya sendiri, atau lingkungan masyarakat atau bahkan umat manusia secara keseluruhan, tapi ada pada jiwa sebenarnya dari alam semesta. Nilai-nilai yang dimiliki siswa menjadi nyata hanya pada besarnya hubungan nilai-nilai itu dengan akhir dari penyimpangan yang para guru sebenarnya bisa menghilangkannya. Sifat jahat dikatakan oleh para idealis sebenarnya adalah hal baik yang belum lengkap jika dibandingkan dengan hal positif secara utuh itu sendiri. Hal ini merupakan hasil dari tidak baiknya pengaturan dan kurangnya sistem yang baik yang ada di alam semesta.


Plato menyatakan bahwa kehidupan yang baik menjadi mungkin hanya jika ia berada pada lingkungan masyarakat yang baik pula. Dalam suatu Negara Republik Plato menjelaskan tentang sebuah lingkungan masyarakat yang ideal dipimpin oleh Raja yang berbudi pekerti baik. Hegel menyatakan bahwa seorang individu mendapatkan pemahaman dan menerapkan sifat baiknya karena ia berasal dari Negara yang baik dimana Hegel menjadi bagian dari komunitas ideal. Kant yang merupakan suatu komunitas yang terdiri dari manusia yang mementingkan satu sama lain dan tidak mendahulukan diri sendiri. Pernyataannya yang terkenal tentang “kategori kepatuhan” yang menyatakan bahwa kita sebagai individu harus selalu bertindak berdasarkan hukum alam dan berhubungan dengan seluruh manusia dalam posisi yang sama rata.  Mengasumsikan bahwa tidak seorangpun menginginkan melihat kesalahan dia yang universal, kita akan mengharapkan seseorang mengikuti paham Kant yang selalu menahan diri dari kejahatan. Ketika seorang siswa bersikap yang tidak pantas, guru akan bertanya padanya apa yang akan terjadi jika seseorang bersikap yang sama. Apakah dia memberikan contoh yang baik bagi teman-teman sekelasnya untuk di ikuti. (guru mungkin juga bertanya pada dirinya sendiri apakah dia adalah contoh yang baik bagi siswanya untuk diikuti). Pelanggaran disiplin adalah dipahami sebagai eksperesi dari kepentingan diri sendiri, menjadi dihukum sesuai dengan prinsip-prinsip moral yang terbentuk dalam kebudayaan bersama sejak lama. Kaum idealis menunjukkan prinsip-prinsip ini umumnya berakar dari agama atau sedikitnya ditunjukkan bahwa hidup adalah abadi. Dalam hal ini adalah sebuah kutipan yang indah oleh Herman H. Horne, mencerminkan sebaik beberapa kutipan saya mengetahui keadaan jiwa dari aliran idealime:


tidak ada manusia yang dapat menjadi…..Tujuannya tidak berakhir dengan hidupnya, maupun dia hidup dalam mengelilingi dunia….usia tidak melemahkan maupun pakaian yang telah rusak, cinta seorang filsafat adalah kebenaran, cintannya artis adalah kecantikan, atau cintanya seorang ilmuwan adalah kebaikan……...Disana selalu ingin tahu dan mencintai dan berbuat…..manusia tidak membatasinya untuk mengetahui, menikmati, dan mencapai sukses, hidupnya tidak mengenal batas waktu. Rencana-rencananya menjembatani jurang perbedaan dari kematian, mereka menyebutnya waktu tanpa batas……………”

 

Nilai Realis dan Pendidikan
Penganut realis setuju dengan penganut idealis bahwa nilai-nilai mendasar adalah pada dasar nya permanen, tetapi mereka berbeda diantara mereka sendiri dalam alasan mereka berpikir demikian. Penganut klasikal setuju dengan Aristoteles bahwa terdapat hakikat moral yang universal dapat sebagai alasan, yang mengikat kita semua menjadi rasional. Orang-orang Kristen penganut realis setuju bahwa kita mengerti banyak hukum moral yang dijadikan alasan, tetapi mereka yakin bahwa hukum telah dibentuk oleh Tuhan yang memberkahi kita dengan kemampuan berpikir (akal) untuk memahaminya. Kita mungkin mampu mengerti tentang hukum moral tanpa pertolongan Tuhan, tetapi karena pada hakikatnya kita telah dirusak oleh dosa yang telah ada pada diri kita (original sin), kita tidak dapat mempraktekannya tanpa bantuan Tuhan. Ilmuwan realis mengingkari bahwa nilai-nilai mempunyai beberapa dukungan kekuatan supernatural. Kebaikan adalah segala kebaikan/bantuan yang kita berikan buat lingkungan kita, kejahatan adalah sesuatu yang menjauhkan kita. Sebab pada hakikatnya keduanya sifat kemanusiaan dan sifat fisik adalah konstan, nilai-nilai kebaikan yang pada yang lainnya juga konstan. Ini memang benar bahwa institusi social dan prakteknya sangat berbeda pada beberap bagian di dunia. Dimana saja penganut idealis menganggap manusia menjadi sempurna, ilmuwan realis menerima dia sebagai yang tidak sempurna. Penganut realis setuju bahwa guru-guru menanamkan kebaikan tertentu yang diartikan sebagai nilai-nilai. Dasar moral dan standar estetika bahwa kita mengajar anak tidak dipengaruhi oleh persoalan batas waktu. Anak akan mengerti dengan jelas hakikat benar atau salah, merespon secara objektif kebaikan dan keindahan tanpa menghiraukan perubahan moral dan mode estetika.


Penganut klasikal realis yakin bahwa walaupun terkonsentrasi pada materi mata pelajaran , sekolah-sekolah akan menghasilkan individu yang lengkap, dalam pandangan penganut aliran Aristoteles adalah menjadi moderat dan tidak memihak dalam segala hal. Anak telah diajarkan untuk hidup dengan mutlak dan standar moral universal, sebab apa yang benar adalah benar bagi manusia pada umumnya dan bukan hal yang sederhana bagi anggota ras khusus atau masyarakat. Ini penting bagi anak-anak untuk memperoleh kebiasaan baik, karena kebaikan tidak datang dengan tiba-tiba  tetapi telah dipelajari.
Penganut Kristen idealis mengumumkan bahwa etika yang bersifat alami tidak mencukupi, bagi manusia telah dibentuk untuk lebih penting sifat alami dan mencapai supernatural. Tujuan sebenarnya dari pendidikan moral adalah keselamatan jiwa. Anak akan diajarkan untuk menjaga jiwanya dalam  keadaan yang terhormat, yaitu berdoa pad Tuhan  dan bebas dari dosa-dosa besar. Dia akan mencari kebaikan dan menjauhi kejahatan, tidak hanya karena alasan-alasan yang telah ditentukan tetapi juga karena ini adalah keinginan Tuhan yang harus dia lakukan.


Penganut Kristen idealis melatih manusia sebaik inteleknya. Walaupun Tuhan memberikan keselamatan , individu harus memutuskan apapun untuk diterima atau ditolak nya. Itu harus dibiasakan untuk membuat pilihan yang benar. Sebab pada hakikatnya manusia dirusak oleh dosa alami yang ada pada dirinya (Origin Sin), Pendidikan mempunyai peranan penting memperbaiki dalam bermain peran. Disiplin yang kuat dibutuhkan untuk mengurangi kebiasaan buruk dan menanamkan kebaikan. Tetapi tidak disebabkan kekuasaan. Tentu saja, sebuah pengertian yang lengkap dari alam raya adalah terdapat sesuatu kekuatan yang berada dialam baka yang juga sebagai alasan, dan kita harus tergantung pada keyakinan kita untuk dapat melewatinya. Sebagai alasan bahwa yang mendukung kepercayaan, bagi Tuhan yang telah memberikannya pada kita sehingga kita mungkin datang untuk mengetahui-Nya dengan lebih baik.
Para ilmuwan realis mengajarkan bahwa benar dan salah datang dari pemahaman kita dari alam raya dan tidak datang dari prinsip-prinsip agama. Sifat moral berdasarkan  pada penyelidikan/penelitian ilmuwan apa yang menunjukkan manfaat bagi manusia sebagai makhluk hidup yang paling tinggi/sempurna dibandingkan dengan makhluk lain. Penyakit adalah kejahatan dan kesehatan adalah kebaikan. Kita harus mengembangkan kebaikan dengan ukuran untuk memperbaiki keadaan fisik kita dan mengatasi kejahatan dengan memperbaiki lingkungan dimana tempat kita tinggal. Beberapa ilmuwan realis juga berpikiran religious. Jika demikian, mereka memperlakukan agama dan ilmu pengetahuan sebagai dua aspek kebenaran yang berbeda. Tidak perlu ada konflik antara satu dengan yang lain, agama dan ilmu pengetahuan digunakan untuk memahami misteri akhir alam semesta.

 

Nilai Pragmatis dan Pendidikan
Bagi penganut Pragmatis, nilai-nilai adalah  bersifat relative. Etika dan norma moral tidak permanen tetapi harus berubab-ubah seperti perubahan kultur dan budaya masyarakat. Ini tidak menuntut bahwa nilai-nilai moral akan fluktuatif dari bulan ke bulan. Ini mengatakan bahwa tidak ada aturan yang istimewa yang dihormati yang mengikat secara universal terlepas dari keadaan itu yang mana ini adalah dilatih.” Kamu tak boleh membunuh” adalah bukan prinsip yang mutlak. Pada kesempatan ini mungkin benar untuk membunuh, dalam keadaan/perintah untuk mempertahankan diri, sebagai contoh untuk mempertahankan/menjaga diri dari yang lain. Anak akan mempelajari bagaimana untuk membuat keputusan moral yang sulit tidak dengan sumber prinsip yang kaku tetapi dengan memutuskan tindakan yang mana yang disukai untuk menghasilkan yang terbaik bagi jumlah yang sangat besar dari kehidupan manusia. Penganut pragmatis mendorong kita untuk menguji manfaat dari nilai-nilai kita dalam cara yang sama bahwa kita menguji kebenaran dari ide-ide kita. Kita akan mempertimbangkan masalah-masalah dari urusan kemanusiaan dengan adil dan pengetahuan dan memilih nilai-nilai dengan melihat sebagian besar mungkin untuk putuskan mereka. Nilai-nilai ini tidak harus dibebankan  pada kita dengan sebuah wewenang yang paling tinggi. Mereka harus setuju setelah terbuka, di informasikan didiskusikan berdasarkan fakta-fakta objektif.


Masyarakat yang lebih kompleks terbentuk, tuntuntan paling besar ini berdasarkan individu. Tetapi penganut pragmatis menolak beberapa konsep dari aliran individualism bahwa berperan penting untuk mengeksploitasi masyrakat dan juga beberapa susunan masyarakat merupakan gabungan dari individu-individu. Dewey menyebutnya perpaduan dari pemikiran individu dan persetujuan kelompok  sebuah “perjanjian genting”. Khayalan masyarakat dia cemburu adalah membangun dengan orang yang telah berani untuk berpikir secara bebas dan masih berkenaan dengan mereka sendiri untuk kelompok. “Keyakinan saya dalam kemutlakan,” tulisan William James, “harus terus menentang keyakinan saya yang lain.” Ini tidak sesuai dengan keyakinan lain dalam diri saya yang bermanfaat saya tidak senang menyerahkan catatan ini. Seperti sikap moral dari penganut pragmatis yang mendoktrin, perkataan James, “teori-teori kita tidak kaku,” dan, jika sesuatu, “ melebarkan dalam mencari Tuhan” Apakah, kemudian, latar belakang moral dari penganut pragmatis? Biarkan William James menggambarkan doktrinnya dalam cara yang tak mampu unutk ditiru:

“Dia [aliran pragmatis] pada kenyataannya tidak berprasangka apapun, tidak menghalangi dogma-dogma, tidak kaku dengan norma-norma yang dianggap sebagai bukti/fakta. Dia adalah ramah sekali. Dia mempunyai beberapa hipotesis, dia mempertimbangkan beberapa fakta ….dia hanya menguji kemungkinan kebenaran yang bekerja dengan sangat baik……..yang sesuai dengan setiap bagian terbaik dalam hidup, dan yang mengkombinasikan dengan tuntutan pengalaman secara bersama, tanpa ada yang diabaikan……….kamu melihat bagaimana  demokratinya dia. Sikapnya adalah bervariasi dan fleksibel, akalnya kaya dan tiada akhir, kesimpulannya ………..as friendly as those of mother nature. Dua bab ini telah memberikan kita beberapa ide dari kontribusi filsafat untuk pendidikan. Kontribusi ini akan dibahasa secara detail dalam bab teori-teori pendidikan, dimana menampilkan pendidik mereka sendiri yang telah dilatih. Walaupun teori-teori ini mengaitkan tema filsafat yang telah kita didiskusikan, mereka sepakat dengan isu spesifik untuk mempraktekan dengan sebenarnya dari pendidikan.

 

PUSTAKA

Kneller, George F.  1971. Introduction to the Philosophy of Education.  New York : John Wiley Sons Inc

 

 

Kembali ke Daftar Judul Tulisan Online

 

Created By M.Sutarno@2009, email : nelan_indah@yahoo.com